Showing posts with label anna ihfiana. Show all posts
Showing posts with label anna ihfiana. Show all posts

Kang Ismet: Tidak Ingin Melacur




Sejak kapan terbentuknya Sambasunda?
Awalnya pada tahun 1993 dengan nama PRAWA, semasa saya masih tercatat sebagai mahasiswa Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung. Dengan sepuluh orang personil, kelompok kami konsisten membawakan garapan-garapan musik kreasi baru dengan perangkat gamelan-gamelan tradisional. Pada tahun 1997 kami berganti nama menjadi CBMW hingga pada akhirnya tahun 1998 kami berganti nama menjadi Sambasunda.

Apa makna dari nama Sambasunda?

Nama ini terinspirasi oleh salah satu lagu yang menjadi andalan dalam album pertaman kami. Sambasunda. Tidak dapat dipungkiri kalau nama itu sangat erbau latin, dan memang ada benarnya pula kalau gaya latin tampak kental dalam musik-musik yang dibawakan Sambasunda. Samba yang nyunda, mungkin secara sederhananya dapat dikatakan demikian. Tapi sebenarnya tak hanya itu arti yang terkandung didalamnya. Sebab budaya Sunda juga mempunyai kata tersebut dalam kosa kata bahasanya, dan uniknya juga mempunyai interpretasi yang saling melengkapi. Kata samba dalam pengertian Sunda merujuk pada anak-anak muda dalam masa pubertasnya yang penuh semangat. Selain itu ada juga seorang tokoh wayang bernama Samba, Pangeran Samba, putera dari Betara Kresna.

Mengapa masih konsisten di seni Sunda? Tidak terpengaruh budaya pop yang kian merajalela?

Sebenarnya hanya di Indonesia saja musisi seperti kita ini masih jarang ditemui. Di luar negeri sudah cukup banyak musisi yang menggabungkan unsur tradisi ke dalam musik mereka. Byork saja memasukan unsur gamelan ke dalam lagunya. Dan itu sungguh disambut baik oleh masyarakat disana. Berbeda dengan pola pikir masyarakat Indonesia yang masih menggangap aneh jenis musik seperti kami ini. Selain itu industri musik Indonesia sepertinya masih belum bisa menerima keberadaan jenis musik ini. Jaadi untuk apa kita ikut-ikutan? Ibaratnya seperti melacurkan diri, memurahkan musik kami, jadi lebih baik kami menghindar dan mungkin hal ini pula yangmembuat kami terkesan jarang didengar.

Menurut bapak adakah peran media terhadap pola pikir masyarakat Indonesia menggapi seni budaya kita yang mulai pudar?

Jelas ada, media kita itu kebiasaannya membuat berita-berita yang rubbish yaa menurut saya. Tidak membuat masyarakat kita tambah pintar, tak ada nilai tambahnya. Tapi kita juga tidak bisa memaksakan kehendak, mengusung idealisme kita untuk mengubah pola pikir media tersebut. Namanya juga media komersil.

Menurut anda bagaimana peran pemerintah terhadap seni budaya kita?

Jelas kurang. Coba dilihat di Eropa sana. Sering sekali diadakan festival musik, summer festival, winter festival, dan semuanya melibatkan semua elemen masyarakat. Wadah seperti itu yang dibutuhkan oleh seniman di Indonesia untuk bisa lebih mengeksplore diri sekaligus dihargai masyarakat.

Kesenian itu ada karena seniman masih mengabdi. Bayangkan kalau tidak ada yang mendukung pengabdian seniman tersebut?

Ya sudah, matilah seni tersebut. Pemerintah memang memiliki Undang-undang yang mengatur tentang dunia kesenian. Tapi pada kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.

Jadi menurut anda bagaimnana keadaan seni budaya kita? Khususnya Sunda?

Orang awan sudah jelas akan mengatakan budaya kita sudah meluntur, saya memaklumi hal tersebut. Tapi sebetulnya sekarang jika dilihat dari segi kuantitatif sudah meningkat, lihat saja. Kalau dulu kesenian-kesenian tersebut hanya digunakan pada acara-acara sakral tradisional saja, seperti pernikahan, khitanan, dan sebagainya. Tapi sekarang kita sudah bisa melihat masik-musik gamelan pada acara televisi seperti Opera Van Java. Namun meskipun demikian, secara kualitatif peningkatan tersebut masih belum signifikan terasa. Sekarang masalahnya tidak ada kesinambungan antara realita kesenian dengan konsepsi pendidikan. Mengukur pendidikan dan kesenian jelas caranya berbeda. Jika pendidikan diukur dengan paramenter seperti nilai, tidak demikian halnya dengan kesenian. Siapa sekarang yang bisa mengukur ke-kreatifitasan seseorang, jelas sulit sekali. Kreatifitas itu jelas tidak bisa diteorikan, hanya bisa dikondisikan. Contohnya saya dan musik Samba sunda, jika dibilang kami mencampur unsure samba yang kelatin-latinan dengan unsur budaya sunda yang juga masih kental. Tapi secara teori apakah hal itu benar? Tidak ada yang bisa mengukurnya.Orang eksak pasti memiliki pola pikir yang berbeda dengan orang seni. Kembali lagi tadi bahwa seni hadir karena pengabdian pera senimannya, mereka membentuk komunitas, kelompok yang lebih besar. Nah, tanpa dukungan dari pemerintah dan masyarakat kerja keras seniman tersebut nantinya tidak akan berjalan secara maksimal

STSI Buah Batu, Bandung Kelompok musik Sambasunda tengah berlatih di studio latihan yang terletak di STSI Buah Batu

sumber: http://www.youtube.com/watch?v=bzjP_hY7k6k


kelompok MIXED perpaduan 4 seniman dengan satu visi



4-fiesta adalah sebuah pameran 4 seniman asal jogjakarta, dan juga australia yaitu FX nanang denganbrushstroke yang liar, Mahendra Pampam dengan kecerdasan komposisinya, leon stainer dengan karya linocut yang begitu detailnya dan tidak diragukan lagi dedikasinya, dan karya -karya Sekar yang benar-benar memiliki keunikan dari segi bentuk dan cara penyampaian ide-idenya. mereka menamai kelompoknya sebagai kelompok MIXED yang berangkat dari keberagaman sudut pandang, latar belakang, juga konsep yang memiliki visi yang sama. pameran ini berlangsung dari tanggal 20 Mei hingga 13 Juni 2010 diadakan di Museum Barli yang terletak di Jl. Ir Sutami No.91.
berikut adalah karya-karya yang dipamerkan dalam pameran 4fiesta tersebut

Karya Mahendra Pampam

"Terpenjara Dalam Renungan"








"Perjalanan ke Perjalanan"













karya Mahendra Pampam adalah karya lukis dengan pulpen diatas kertas gambar, karya yang unik karena gambarnya berciri khas dengan berbagai macam lukisan tikus yang terlihat aneh namun tetap mampunyai nilai seni yang tinggi.













Karya Fx Nanang



(karya fotografi dengan tema akar pohon, mewakili arti hidup yang berawal dari akar)




























Karya Sekar Suminto







"Chatting"















" La Fontaine"












"Breakfast"






Karya Leon Stainer (Australia)

"Maninerida Fine Food"

















"Untitle"
Leon Stainer pernah melakukan workshop dengan seniman dari Timur dan Timor Barat, Bali, Jawa dan Australia di Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta pada tahun 2009. dan sekarang dia memamerkan karya linout nya dengan kelompok MIXED tersebut

Indahnya Batik Pekalongan

Batik adalah salah satu indentitas yang dimiliki indonesia, sampai sekarang batik masih digemari banyak orang, baik itu dipakai dalam keseharian, dalam acara pernikahan, ataupun acara resmi. salah satu daerah penghasil batik adalah pekalongan . pekalongan sendiri memang terkenal dengan batiknya dengan bermacam motif dan warna yang variatif. di pekalongan desa siliredjo RT.4 RW.10, pada hari Sabtu 29 mei 2010 saya berkesempatan untuk meliput bagaimana proses pembuatan batik pekalongan tersebut. pabrik batik yang saya kunjungi adalah pabrik batik nasril, milik Bapak Toin. batik yang dibuat memang sudah modern dengan cara batik cetak, bukan lagi batik yang seluruhnya dilukis dengan canting. batik nasril, di distribusikan ke beberapa daerah, seperti Jogjakarta, dan Semarang, dengan harga yang lumayan tinggi sekitar 150 ribu perpotong, sampai 550 ribu per setel. batik dijual dengan harga yang tidak murah, karena proses pembuatan batik yang rumit dan sepenuhnya dengan pembuatan tangan manusia bukan mesin. pada hari itu, sekitar 20 pekerja sedang sibuk melakukan tugasnya membuat batik. pembuatannya dibagi menjadi beberapa proses, yaitu proses pencetakan, pewarnaan, pencantingan, juga perendaman batik. batik tersebut
menghabiskan watu hingga 7 hari lama nya.
Cara pembuatannya
pertama tama, kain putih yang siap dibatik, dicetak terlebih dahulu, dengan alat cap khusus yang sudah bercorak sesuai pesanan.

















kemudian kain tersebut dicelup dengan bahan pewarna khusus batik. namun pada bagian kain yang diberi malam maka proses pewarnaan pada batik tidak dapat masuk karena tertutup
oleh malam (wax resist). jadi bagian yang telah diberi malam tetap berwana putih.












setelah proses pewarnaan, kain tersebut masuk proses pelorot, pelorot adalah proses pemanasan untuk melunturkan malam dengan cara direbus,hingga menjadi leleh dan terlepas dari batik.













setelah itu kain batik tersebut masuk proses pencantingan, yang dilakukan oleh para pekerja perempuan, proses tersebut untuk membuat detail motif batik, agar lebih bagus dan indah.















batik pun dicuci terlebih dahulu,setelah itu proses pewarnaan kedua sesuai dengan warna yang diinginkan juga dengan larutan soda ash untuk mematikan warna yang menempel pa
da batik, dan menghindari kelunturan. Setelah itu masuk kembali ke proses penghilangan malam dengan cara direbus di air panas, kemudian batik direbus di air panas yang bersih sampai 2 kali.

















proses terakhir adalah proses penjemmuran batik hingga kering dan siap untuk didistribusikan.

Masyarakat Indonesia Masih Menuju Transisi Menghargai Seni

Kesenian tradisional, makin hari makin tertinggal akibat adanya modernisasi. Namun tetap seni adalah salah satu aset yang dimiliki negeri kita ini. Salah satu seni yang masih eksis sampai saat ini adalah seni tari bali. Diantara banyak orang yang sudah mulai meninggalkan seni tradisional dan beralih ke seni modern, ternyata masih ada seseorang yang cinta seni dan peduli dengan seni tradisional, bahkan seni tradisional telah dijadikan bagian dari profesinya.
I Gusti Komang Aryaprastya Agus, atau panggil saja Gusti Arya adalah seorang dosen seni tari, juga peneliti seni tradisional di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, sekaligus seorang pelatih Tari bali dan tari nusantara di beberapa sanggar bandung juga di Bali. seperti Sanggar Natyanataraja yang terletak di jalan Merdeka No. 64 Bandung, juga Sanggar Sekar Tampaksiring di jalan Ciung Wanara dekat Istitut Teknologi Bandung.
Disela kegiatannya melatih tari Bali di Sanggar Sekar Tampaksiring, Minggu 30 Mei 2010, Anna Ihfiana berhasil mewawancarai Gusti Arya. Berikut petikan wawancaranya

Sejak kapan Anda melatih Tari Bali?
Dulu saya SMA di Bali, dari Bali saya ke Bandung untuk kuliah S1 di UPI. Sejak tahun 97 saya sudah mengajar tari dan mendirikan sanggar tari bali sendiri, namun setelah saya menyelesaikan s2 saya, kamudian barulah saya membuka cabang sanggar tari bali ke beberapa daerah di Bandung. seperti sanggar Natyanataraja, dan sekar Tampaksiring

Menurut Anda bagaimana kepedulian pemerintah kepada seni?
Sebenarnya pemerintah sudah mulai peduli dengan kesenian, dengan diadakannya festival, juga budget khusus dari pemda untuk kesenian.

Lalu, menurut Anda bagaimana perkembangan seni tradisional itu sendiri?
Seni memang agak lemah banyak orang yang memandang sebelah mata, namun masih ada beberapa orang yang peduli. karena sebenarnya seni itu banyak manfaatnya seperti meningkatkan kecerdasan musik, kecerdasan gerak, dan kecerdasan bahasa. jaman dahulu seni itu hanya dijadikan hiburan, tapi sekarang seni itu bisa dijadikan profesi, dengan menggeluti seni itu kita bisa membuat prestasi.

Mengapa Anda tetap bertahan menjadi pelatih Tari Bali, padahal sekarang sudah banyak modernisasi?
Ya karena saya memang sudah bercita-cita untuk melestarikan budaya, kalau semua orang tidak peduli, maka yang terjadi kita untuk belajar seni harus jauh-jauh belajar diluar negeri, karena diluar negeri kesenian tradional itu sendiri lebih dihargai. betapa malu nya kita dengan seni yang sangat kaya, harus repot-repot belajar keluar negeri. masyarakat indonesia itu masih menuju transisi menghargai seni.

Apakah Anda menekuni tari lain selain Tari Bali?
Kebetulan dari kecil saya memang hobi menari,sampai besarpun saya sekolah menari akhirnya saya kerjanya juga di bidang seni tari, jadi saya memang pernah belajar tari lain, seperti tari jawa, Tari Sunda, Sumatra, Papua, juga internasional seperti Tari China, India, Jepang. saya tetap berkeinginan untuk belajar tari apapun.

Apa pendapat Anda tentang anak muda jaman sekarang yang lebih suka budaya modern?
Pandangan seperti itu sering saya dengar, tapi sebenarnya tidak semua anak muda melupakan seni tradisional. banyak juga generasi-generasi muda yang sering tukar budaya keluar negeri, melakukan festival budaya. dan membawa budaya tradisional indonesia ke mata internasional. tapi memang sekarang ini tradisonal dianggap kurang menguntungkan, padahal kelebihannya banyak. orang hanya belum menyadarinya. misalnya orang india, sampai sekarang kalau keluar negeri masih banyak yang memakai sarinya, kalau orang indonesia, pasti jarang sekali ada yang mau memakai batik keluar negeri. itu menunjukan bahwa kita harus belajar, dan kita belum mempunyai jati diti, dan masih meniru.kita sekarang ini masih berfikiran kalau ilmu dan sains masih lebih menguntungkan di banding seni, padahal seni bisa sangat menguntungkan.

Apa harapan Anda terhadap seni di indonesia?
Agar semua orang bisa membuka mata lebar-lebar, bahwa jika semua orang hanya belajar sains maka otak kiri nya saja yang bekerja. dengan seni musik dan bahasa, otak kanan kita juga bisa bekerja dan akhirnya seimbang.

Seberapa cintakan Anda terhadap seni?
Ya memang saya sudah makan dan hidup dari seni itu sendiri, meskipun resikonya seorang pekerja seni tidak begitu kaya, tetapi sebenarnya pekerjaan seni itu bisa disambi dengan beberapa profesi lainnya.seperti saya yang menjadi dosen juga peneliti. jadi harus seimbanglah, antara hidup dan melestarikan budaya.



Data Narasumber
Nama : I Gusti Komang Aryaprastya Agus S.Pd, M.Hum.
TTL : Bali, 12 Maret 1980

Perayaan HUT VW Club Bandung ke-28

uniquely volkswagen
unik adalah satu kata yang terfikir dikepala saya ketika saya melihat barisan mobil VW berwana-warni yang diparkir di halaman Sabuga Bandung. dan pasti nama VW sudah tidak asing ditelinga kita, VW adalah merek mobil dari german yang pada awalnya di design sebagai mobil yang merakyat. Namun sekarang VW sudah sangat berkembang dengan model-model mobilnya yang unik dan bisa dikatakan aneh karena berbentuk seperti kodok. namun karena keunikan itu mobil VW pun menjadi makin marak, kalangan pencintanya pun beragam dari kalangan atas ataupun menengah

Sasana Budaya Ganesha, pada tanggal 9 mei 2010 telah diadakan acara Achtung VW Club, acara ini diadakan bertepatandengan hari jadi ke-28 Volkswagen Club Bandung dengan ketua nya Deny F. Kusumah, acara ini sebagai kumpul-kumpul komunitas dan penggemar mobil volkswagen
atau dalam bahasa indonesianya adalah mobil rakyat. Acara ini menghadirkan sesuatu yang sangat beragam, juga dengan kehadiran dari banyak komunitas-komunitas lain seperti komunitas bike to work, komunitas sepeda onthel dan komunitas motor tua. Berbagai acarapun digelar, mulai dari kontes VW, pameran VW, bursa onderdil penampilan band dan lomba-lomba seperti lomba menggambar, lomba fotografi.
tidak hanya itu, ada juga penampilan perkusi dari sekolah cerdas munthahhari dan juga penampilan tari tradisional jaipong jawa barat. walaupun acara ini adalah perayaan HUT VW club, namun dalam acara ini tetap menampilkan kesenian d
ari jawa barat, dan tetap mengapresiasi kebudayaan jawa barat.

perkusi yang ditampilkan oleh
sekolah cerdas munthahhari dengan bimbingan kak rizky, terdengar bersemangat juga indah dengan alunan musik tradisional bandung. sekolah cerdas muntahhari adalah sekolah formal yang terletak di arcamanik bandung. kemudian penampilan dari wannabe dancer juga tidak kalah bagus, dengan tarian jaiponga
n dan juga jaipongan topeng nya menghias hari itu dengan sentuhan kesenian yang sangat kental ditambah lagi dengan alunan gamelan sunda yang khas.



acara ini dselenggarakan dari jam 10 pagi sampai jam 5 sore, dengan rangkaian acara yng padat, juga penampilan dari band-band asal sunda seperti My day Band, band 5 juga penmpilan dari bintang tamu yaitu Mat Bitel band yang khas memainkan lagu-lagu the beatles. tidak juga untuk sukuran HUT VW club, diadakan pula acara tumpengan dan kue uang tahun yang diwaklikan oleh perwakilan dari setiap komunitas.
setelah semua rangkaian acara rampung akhirnya Achtung VW club di tutup dengan penyerahan piala kepada para pemenang lomba, dari fotografi, lomba modifikasi VW juga lomba mewarnai.















parade sepeda onthel












berbagai macam model VW





Amazon Kindle DX= Read Me!

perkembangan teknologi zaman sekarang sudah semakin canggih. sehingga kemudahan bisa didapat manusia dengan adanya teknologi tersebut. banyak hal yang mustahil dilakukan tapi bisa dengan mudah terjadi hanya dengan satu gadget yang canggih. salah satu teknologi itu adalah Amazon Kindle DX sebuah perpustakaan berjalan yang mampu memuat 3500 buku dalam satu perangkat. dengan berat 18,9 ons yang sangat ringan,dan tampilan yang tipis menyerupai majalah. display akan berubah otomatis sesuai dengan gerakan anda, bisa muncul dengan tampilan landscape atau portrait. kindle dx ini juga tahan sampai berhari-hari, tanpa takut untuk men-carge terlebih dahulu.
3G nirkabel memungkinkan anda untuk men-download buku-buku langsung dari DX Kindle anda, kapan saja, dimana saja, tidak ada biaya bulanan, tidak ada kontrak tahunan, dan tidak perlu berburu Wi-Fi Hotspot. dengan fitur text to speech, Kindle DX dapat membaca koran,majalah,blog,dan buku-buku dengan suara keras kepada anda, kecuali jika pemegang hak buku membuat fitur tidak tersedia. Native PDF memungkinkan anda untuk membewa dan membaca semua dokumen pribadi dan profesional di perjalanan. dengan Kindle DX anda bisa mendownload file buku yang anda ingin, dengan harga yang jauh lebih murah dari membeli buku biasa.


DAMPAK
Dampak positif Kindle DX
  • Kindle DX memudahkan kerja seseorang, tidak perlu membawa banyak buku yang berat. namun hanya membawa 1 perangkat saja.
  • menbudayakan kebiasaan membaca
  • tidak perlu membawa flashdisk, kerena Kindle DX ini bisa membawa document-document anda.
  • jika anda sedang tidak ingin membaca, maka anda bisa tetap dibacakan oleh alat ini.
  • alat ini juga tanpa kabel dan ringan jadi anda bisa membaca dimana saja tanpa harus membawa buku yang berat
Dampak negatif Kindle DX
  • membuat orang cenderung malas membaca karena ada fitur read-to-me
  • membuat buku tidak laku dipasaran
  • karena display dengan tampilan seperti komputer, membuat anda lelah membaca
  • display layar Kindle tidak multicolor

perubahan dari beberapa segi
  • segi interactivity: perubahan dalam aspek ini adalah adanya hubungan manusia dengan alat. kita tidak perlu membawa 3500 buku, jadi hanya dengan membawa alat ini 3500 buku tersebut ada digenggaman. hubungan antar manusia dan alat yang lain adalah fitur read-to-me, dimana alat ini akan membacakan buku yang tersimpan di dalamnya.

  • segi demassified: tingkat kenyamanan dan kebutuhan akan fungsi alat ini sangat diperlukan dan dibutuhkan bagi pemilik alat ini kita bisa mendownload tanpa harus mengeluarkan tenaga, karena sudah ada keuntungan tersendiri bagi penggunannya dengan harga yang jauh lebih murah dibanding membeli buku biasa. juga untuk membaca Kindle ini akan membuat penggunannya nyaman dalam membaca tanpa harus membeli buku terlebih dahulu.

  • segi asynchronous: segi ini adalah unsur keserempakan. dengan adanya Kindle DX ini kita tidak perlu mengeluarkan enegri untuk pergi ketempat membeli buku. hanya dengan mendownload pun bisa. itulah yang menjadi keunggulan dari Kindle DX, yang membuat keunikan dari gadget yang satu ini. dan dengan fitur read-to-me yang ada membuat kelebihan yang unik dibanding reading device lainnya.

berikut ini adalah video tentang Kindle DX