Showing posts with label sarah yuniarni. Show all posts
Showing posts with label sarah yuniarni. Show all posts

Kesenian Betawi


Kesenian Betawi

Pakaian Adat

seperti yang terlihat pada foto pakaian adat betawi biasanya berwarna merah. bajunya seperti jas menutupi leher dan memakai tutup kepala. biasanya di pinggang dekat perut diselipkan belati atau semacam keris. Sedangkan untuk pakaian wanitanya, biasanya memakai tutup kepala yang dengan rumbai rumbai semacam tirai untuk menyamarkan wajah. itu disebut syangko (penutup muka). Setelah diteliti lebih jauh ternyata syangko dipengaruhi oleh kebudayaan arab. Model baju wanitanya seperti kebaya encim (cina).


Tari Ronggeng Betawi

Tari ronggeng mulanya merupakan tarian yang dibawakan seorang diri. Tari ronggeng merupakan tarian hiburan. Dan sudah ada sejak adanya tuan-tuan tanah pada zaman Belanda dulu. Tari ronggeng biasa dipentaskan pada pementasan wayang cokek, permainan topeng, ogel, dan lenggo. Cirri-ciri dari ronggeng Betawi biasanya adalah gerakan yang tidak tetap, tergantung pada gong dan music. Biasanya ada gerakan kepala yang khas dengan gong juga gerakan-gerakan yang lucu. Biasanya memakai selendang untuk pemilihan pasangan, dan jika sudah berpasangan dinamakan tayuban


Tanjidor / Gambang Kromong

Di dunia musik Betawi terjadi pembauran atau pencampuran antara unsure Cina dengan pribumi. Alat-alat pada gambang kromong yaitu kemor, gendang, kecrek, kempul dan gong adalah unsure pribumi, sedangkan sisanya adalah unsur alat musik Cina. Gambang Kromong sekarang ini dipakai sebagai musik untuk mengiringi tarian-tarian tradisonal atau tarian kreasi. Seperti tarian Sirih kuning dan lain-lain.

Kolaborasi Unik

West Java Jazz

Cuaca mendung tidak menyulutkan semangat para penonton untuk menyaksikan kolaborasi musik tradisonal dengan musik modern. Bertempat di Dago Tea House Bandung acara ini merupakan penyegaran dari acara-acara lain yang seringnya monoton atau menampilkan artis-artis modern yang itu-itu saja. West Java Jazz memiliki konsep yang berbeda. Mengemas tradisional musik dengan musik jazz. Acara dimulai tepat pukul 06.05, dimulai dengan band dari Fikom Unpad Bandung yaitu Coffee Shop. Dilanjutkan dengan penampilan angklung dari SD Isholla.

Lalu penampilan arumba saung angklung Udjo cukup menarik untuk disimak. Tetapi sangat disayangkan hujan mulai turun cukup deras. Karena konsep West Java Jazz yang memang open theater, penonton banyak yang mulai mengungsi keatas, takut kehujanan. Arumba saung Udjo ini tidak hanya permainan musik tetapi juga dilengkapi oleh 2 penyanyi wanita. Mereka menyanyikan beberapa lagu-lagu modern dan tradisonal.

Kemudian Contra Indigo mulai menghentak Dago Tea House . penonton yang tadinya mengungsi diatas kini mulai turun kebawah. Dengan bersenjatakan payung dan jaket untuk menutupi kepala dan tubuh masing-masing, penonton tetap setia menyaksikan band yang berkelas Java Jazz ini. seluruh lagu yang dibawakan adalah ciptaan mereka. Di akhir penampilan, mereka berduet dengan arumba angklung Udjo, 2 lagu.

Gerimis mulai turun dan guest star yang ditunggu-tunggu yaitu Endah n Rhessa tampil membawakan lagu-lagu dari album “Nowhere To Go”. Kami tidak menyayangkan dan menyalahkan gerimis yang mulai turun, sebetulnya gerimis menambah suasana menjadi lebih romantic dan syahdu. Endah n rhesa sungguh sangat pas menutup malam indah kami di kota Bandung.

PTB IX

Pentas Tari Bali ITB ke – IX

Mungkin seni tradisional bagi sebagian orang membosankan tetapi tidak bagi kami. Karena kami akan terus meng-update acara-acara yang mengandung unsur seni, sejarah dan juga tradisonal.

Bahasan kami kali ini adalah Pentas Tari Bali sanggar Ciung Winara yang diadakan setiap tahunnya di aula barat ITB. Setelah Malaysia mengklaim tari Pendet sebagai tarian mereka sepertinya masyarakat kita lebih sadar akan kesenian tradisonal. Terbukti dengan sesaknya aula barat ITB tanggal 24 April 2010.

Acara ini menampilkan banyak tarian-tarian Bali. Acara dimulai jam 19.00 tepat, dibuka dengan Gopala, tarian jenaka yang dibawakan oleh 3 pria. Disusul dengan tari Pendet, Manukrawa, Tenun dan Cilinaya. Tidak hanya tarian Pendet atau Panji Semirang yang sering kita dengar tetapi juga tari Kebyar Kerompong yaitu sang penari yang menari sambil bermain gamelan.

Disusul dengan Oleg Tamulilingan. Tarian yang menceritakan hubungan percintaan antara kumbang dengan bunga. Ada juga tari Sekar Jagat yaitu tarian penyambutan yang ditarikan 5 orang. Tarian ini memiliki makna yang sama dengan tari Pendet dan sama-sama membawa canangsari namun gerakan tarian ini berbeda jauh dengan Pendet.

Sesudah tari Sekar Jagat, disusul dengan tari Yudhapati yang menceritakan prajurit pada masa peperangan. Tariannya membawa kipas, dahulu kala ujung kipas tersebut sangat runcing. Ketika kipas tersebut ditutup maka ujung-ujung kipas tersebut dapat menjadi senjata yang cukup ampuh.

Berapa menit kemudian ada Tari Trunajaya yang biasanya dibawakan oleh seorang penari putri. Tari Trunajaya menggambarkan tentang seorang pemuda yang tumbuh dewasa, emosional dan tingkah lakunya senantiasa untuk menarik lawan jenis. Trunajaya berasal dari Buleleng (Bali Utara). Tari trunajaya merupakan tari putra tetapi biasa dibawakan oleh penari putri

Ada juga Legong Kuntul yang ditarikan oleh 2 penari. Dengan kipas dan mahkotanya yang khas Legong menceritakan tentang burung-burung Kuntul yang asyik bercengkrama. Legong memiliki banyak macam dan jenis. Legong dikembangkan di Bali pada abad 19. Dan Legong adalah tarian klasik yang memiliki pembendaharaan gerakan yang kompleks dan luwes.

Acara ini ditutup dengan Joged. Joged ini seperti sandiwara jenaka atau dolanan. Pada awalnya segerembolan putera memasuki panggung dan langsung duduk membentuk barisan melingkar. Serupa tari Kecak tetapi berbeda. Nyanyian mereka mengandung cerita dan makna. Dari lagu yang mereka latunkan mereka bercerita tentang kebobrokan bangsa, KKN, dan lain-lain.

Sebelum menonton, penonton diberikan brosur yang menjelaskan cerita singkat mengenai tarian yang dibawakan. Tetapi tarian yang dibawakan tergantung representasi dari penonton.

Senandung Batavia



Jakarta Anniversary Festival 2010

The Performing Arts Festival on Urban Culture

“Jakarta dalam Potret dan Gambar yang Bergerak, suatu Dinamika Kota”

Menyambut Ulang Tahun Jakarta yang ke-483, Gedung Kesenian Jakarta menampilkan beberapa rangkaian acara dari tanggal 2 Juni-4 Juli. Pementasan dimulai pada tanggal 2-3 Juni yaitu Senandung Batavia.

Senandung Batavia

Senandung Batavia adalah pementasan unik yang menggambarkan suasana Betawi tempo dulu. Pementasan Senandung Batavia ini dibawakan oleh siswa-siswi Pendidikan Musik Vokal Gita Svara, didukung oleh paduan suara (SOC) “Susvara Opera Company”. Untuk pementasan kali ini siswa-siswi Gita Svara membawakan lagu-lagu karya asli Betawi Bang Ben atau Benyamin Sueb (alm) dan Bang Miing atau Ismail Marzuki (alm). Serta lagu-lagu karya Tri Sutji Kamal, Maladi, Titiek Puspa dan Guruh Soekarno Putra. Acara dimulai tepat pukul 20.00 malam, dibuka dengan lagu Chandra Buana karangan Ismail Marzuki. Dilanjutkan dengan lagu Indonesia Pusaka yang dibawakan dengan seriosa.

Kemudian lagu Bandar Jakarta, Sabda Alam dan Hujan Gerimis yang dibawakan secara riang dengan penari latar. Lalu ada juga Cente Manis, Tidurlah Intan dan Rangkaian Melati. Setiap lagu yang dibawakan merupakan untaian lagu-lagu karya komponis Indonesia pada masa perjuangan. Seperti Setangkai Bunga Mawar, yang mengandung makna yang dalam karena dibuat oleh Ismail Marzuki untuk menyemangati para tentara Indonesia dalam masanya melawan penjajah Jepang.

Lalu lagu rangkaian Melati yang bercerita tentang seorang gadis Indonesia yang jatuh cinta dengan seorang perwira Jepang. Suatu hari perwira Jepang tersebut harus kembali ke negara asalnya dan ia berjanji akan kembali untuk menemui gadis Indonesianya. Gadis tersebut terus menunggu sambil meronce melati, tetapi perwira Jepang itu tidak kunjung datang. Gadis itu tetap menunggu hingga mati. Dan rangkaian ronce melati yang ia buat untuk perwira Jepang itu tetap ada di hatinya untuk selamanya.

Di pementasan ini bukan hanya orkestra saja yang mengiringi beberapa lagu, tetapi juga ada alat musik tradisional China dan kecapi. Dengan tambahan kecapi lagu yang dibawakan terdengar unik dan indah. Pementasan ini sempat jeda untuk isitirahat sebentar dan para pengunjung dapat menikmati pameran lukisan dan mencicipi hidangan yang telah disediakan.

Pementasan dilanjutkan dengan dibawakannya lagu-lagu aseli Betawi yang semasa SD sering kita latunkan dan hafalkan, seperti Kicir-kicir, Gado-gado Jakarta, Sirih Kuning, Lenggang Jakarta dan Gang Kelinci. Dan lagu favorit yang saya tunggu-tunggu akhirnya dilatunkan yaitu, Zamrud Khatulistiwa karangan Guruh Soekarno Putra. Dan terakhir lagu Kelap-kelip yang dibawakan dengan manis oleh seluruh siswa-siswa SOC menutup malam kami yang syahdu di ibukota.